Kamis, 16 Juni 2011

Analisis Wacana Puitik dan Pembacaan Semiotik sajak "Pahlawan Tak Dikenal" karya Toto Sudarto Bachtiar

BAB I       

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Karya sastra merupakan salah satu hasil usaha untuk merekam isi jiwa sastrawan dengan media bahasa. Salah satu jenis dari karya sastra ialah puisi, di samping sastra rekaan (roman, novel, cerpen, serta epik) dan drama. Puisi merupakan bentuk karya sastra paling tua. Bentuknya dari yang paling sederhana, semisal mantra-mantra pengusir roh jahat dan jampi-jampi penolak bahaya, sampai bentuknya yang tertata oleh ikatan konvensi, puisi masih tetap lestari melewati rentang perjalanan waktu yang panjang.
Puisi  merupakan  wujud  kesusastraan  sebagai suatu karya kreatif. Sebagai karya  kreatif, puisi harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha  menyalurkan kebutuhan  keindahan  manusia.
Ada dua istilah yang berhubungan dengan puisi dalam kesusastraan Indonesia, yakni puisi itu sendiri dan sajak. Seringkali istilah puisi disamakan dengan sajak. Akan tetapi, sebenarnya tidak sama, puisi itu merupakan jenis sastra yang melingkupi sajak, sedangkan sajak adalah individu puisi. Kesalahan ini disebabkan oleh masuknya istilah puisi dari bahasa Belanda poezie. Dalam bahasa Belanda ada istilah lain, yaitu  gedicht yang berarti sajak, tetapi istilah gedicht tidak diambil ke dalam bahasa Indonesia (Pradopo, 2002, h. 306).
Mengacu pada pendapat di atas, maka penelitian ini menggunakan istilah sajak untuk menyebut karya sastra yang berjudul “Pahlawan Tak Dikenal” sajak karya Toto Sudarto Bachtiar inilah yang akan dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian ini.
Puisi itu ekspresi penyair yang melibatkan pikiran dan perasaan, dan karenanya menjadi imajinatif. Dalam menulis puisi nampaknya penyair mempergunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Ini terjadi karena puisi sebagai ungkapan jiwa. Penyair menghendaki agar pembaca dapat turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasakan penyair. Misalnya saja sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar.
Peneliti mengkaji sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar dengan alasan karena kata-kata yang dipergunakan dalam sajaknya menyiratkan pancaran sikap sopan dan rasa hormat kepada pahlawan. Untuk memaksimalkan kepuitisan karya, biasanya penyair memanfaatkan kemampuannya dalam memilih kata setepat mungkin, memasukkan kata-kata/kalimat yang konotatif dan mempergunakan gaya bahasa tertentu.   
Pilihan kata penyair sangat membantu imajinasi pembaca. Semakin konkret kata-kata dalam puisi, semakin tepat citraan yang ditimbulkannya.  Sehingga penulis memutuskan untuk menganalisis sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar dengan pendekatan semiotik.

1.2 Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah yang dimaksud di sini pada hakikatnya berguna untuk membatasi masalah, dengan tujuan agar penelitian ini nantinya akan lebih jelas dan terarah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Analisis wacana puitik. Analisis ini berupa analisis ketaklangsungan ekspresi puisi, yakni penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaaan arti (creating of meaning).
2. Analisis semiotik. Analisis semiotik dilakukan dengan melalui pembacaan semiotik, yakni pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik atau pembacaan retroaktif.
Dengan demikian setelah melalui tahap-tahap tersebut, memudahkan peneliti dalam mengungkapan tema dan amanat yang terkandung dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal”.

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai  berikut.
1. Bagaimana wacana puitik sajak “Pahlawan Tak Dikenal”?
2. Bagaimana deskripsi kajian semiotik melalui pembacaan semiotik (pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik atau retroaktif) dalam pengungkapan tema serta  amanat yang dikandung dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal”?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan wacana puitik yang terdapat dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal”.
2. Mendeskripsikan kajian semiotik dalam pengungkapan tema dan amanat yang dikandung oleh sajak “Pahlawan Tak Dikenal”.

1.5 Manfaat Penelitian

Setiap penelitian diharapkan mampu memberi manfaat, baik dari segi teoretis maupun segi praktis. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Manfaat teoretis, yakni penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah penelitian terhadap sajak dengan pendekatan semiotik dan dapat menjadi acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis, yakni penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan daya pemahaman kita terhadap sajak, sehingga dengan demikian diharapkan pula apresiasi kita terhadap kesusastraan, khususnya sajak bertambah.

BAB II

LANDASAN TEORI


Kata semiotik berasal dari kata Yunani semeion berarti tanda. Definisi semiotik adalah studi tentang tanda-tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, seperti cara berfungsinya, hubungan dengan tanda-tanda lain, pengirim, dan penerima serta oleh mereka yang mempergunakannya (Sudjiman & Zoest, 1992, h. 5).
Menganalisis sajak bertujuan memahami makna sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap makna sajak atau memberi makna kepada teks sajak. Sajak secara semiotik merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna yang ditentukan oleh konvensi. Makna sajak adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sajak menurut konvensinya, yaitu arti yang bukan semata-mata hanya arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan (Pradopo, 2002, h. 123, 280).
Dari pernyataan di atas, terdeskripsikan bahwa seorang kritikus tidak bisa semaunya dalam memberikan arti (makna) sajak. Melainkan kritikus terikat pada teks sajak sendiri sebagai sistem tanda yang mempunyai konvensi sendiri berdasarkan hakikat sajak. Maka untuk dapat menangkap makna atau arti pastilah diperlukan cara-cara yang sesuai dengan sifat hakikat sajak.
Peneliti dalam usaha memproduksi makna tanda-tanda dalam sajak Pahlawan Tak Dikenal mempergunakan metode pemaknaan semiotik berupa ketaklangsungan ekspresi puisi, dan pembacaan semiotik (pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik atau retroaktif). Diharapkan setelah melalui tahap-tahap tersebut memudahkan peneliti dalam mengungkapkan tema dan amanat sajak Pahlawan Tak Dikenal.

2.1 Ketidaklangsungan Ekspresi Puisi

Puisi itu dari waktu dahulu hingga sekarang selalu berubah karena evolusi selera  dan konsep estetik yang selalu berubah dari periode ke periode. Akan tetapi, satu hal yang tidak berubah, yaitu puisi itu mengucapkan sesuatu secara tidak langsung. Ketaklangsungan ekspresi itu disebabkan tiga hal,  yaitu penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning) (Riffaterre, 1978, h. 2).
Penggantian arti (displacing of meaning) disebabkan oleh penggunaan bahasa kiasan. Perrine menyebut bahasa kiasan dengan istilah bahasa figuratif, yaitu bahasa yang dipergunakan untuk mengatakan sesuatu dengan cara tidak biasa. Adapun jenis-jenis bahasa kiasan atau bahasa figuratif, yaitu perbandingan atau perumpamaan (simile), metafora, perumpamaan epos (epic simile), personifikasi, metonimia, sinekdoki, dan allegori (dalam Pradopo, 2001, h. 71). Penjelasan tentang macam-masam bahasa kiasan atau bahasa figuratif  sebagaimana di bawah ini.
Pertama, perbandingan  atau perumpamaan (simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, dan kata-kata pembanding lain (Pradopo, 2002, h. 62). Pemakaian bahasa kiasan perbandingan misalnya: aku seperti burung tersesat di tengah kota, bagaikan ombak di lautan, bak kembang sari yang sudah terbagi, ia bertingkah bagai gorilla, dan lain sebagainya.
Kedua, metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan  kata-kata  pembanding seperti: bagai, sebagai, laksana,  seperti, semisal, seumpama, sepantun, penaka, dan sebagainya. Misalnya: sorga hanya permainan sebentar, sorga adalah istilah pokok, sedangkan permainan sebentar merupakan istilah kedua atau vihicle.
Ketiga, perumpamaan epos atau perbandingan epos (epic simile) ialah perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam frase-frase, klausa-klausa, atau kalimat-kalimat berturut-turut. Pemakaian bahasa kiasan perbandingan epos misalnya: di tengah sunyi menderu rinduku/ /seperti topan. Meranggutkan dahan/ /mencabut akar, meranggutkan kembang kalbuku.
Keempat, personifikasi adalah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia. Misalnya  sepi menyanyi, sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia, malas dan malu nyala pelita, dan lain sebagainya.
Kelima, metonimi ialah suatu gaya bahasa yang sering menggantikan nama sesuatu dengan sesuatu yang lain karena ada kesamaan pada keduanya (Riffaterre, 1978, h. 49). Misalnya: klakson dan lonceng bunyi bergiliran, klakson dan lonceng dapat menggantikan orang-orang atau partai-partai yang saling bersaing dalam pemilu.
Keenam, sinekdoki adalah kiasan yang menyebutkan suatu bagian penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri (Altenbernd dalam Pradopo, 2002, h. 78). Sinekdoki ada dua macam, yaitu pars pro toto dan totum pro parte. Pars pro toto adalah majas pertautan yang menyebutkan nama sebagian sebagai pengganti nama keseluruhan, misalnya sepasang-sepasang mata memandangku. Totum pro parte adalah majas pertautan yang menyebutkan nama keseluruhan  sebagai  pengganti nama  bagiannya, contoh:  kujelajah  bumi.
Ketujuh, allegori ialah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan yang mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Misalnya Menuju ke Laut, sajak Sutan Takdir Alisjahbana.
Penyimpangan arti (distorting of meaning) disebabkan oleh tiga hal, yaitu ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Pertama, ambiguitas adalah bahasa kiasan dengan arti ganda atau menyarankan dua arti atau lebih. Sebagai contoh diambil sajak Chairil Anwar Doa pada bait kedua: Tuhanku/ /Aku mengembara di negeri asing/. Mengembara di negeri asing berarti sangat bingung, tidak tahu arah, tidak tahu apa yang dikerjakan, terasing, kesunyian, dan sebagainya.
Kedua, kontradiksi  berarti pernyataan yang mengandung pertentangan, disebabkan oleh paradoks dan ironi (Riffaterre, 1978, h. 2). Paradoks adalah ungkapan yang bertentangan atau berlawanan, misalnya: serasa apa hidup yang terbaring mati, hidup tetapi mati pengertian ini sangat bertentangan atau berlawanan, artinya hidup tanpa harapan, tanpa perubahan, selalu menderita. Ironi menyatakan suatu hal secara kebalikan, biasanya untuk mengejek atau menyindir suatu keadaan, misalnya tampak dalam sajak Subagio Sastrowardojo Afrika Selatan berisi ejekan pada orang kulit putih yang menyebarkan ajaran Yesus Kristus yang berupa ajaran cinta kasih itu justru melakukan kebiadaban, menjalankan politik apartheid, ras diskriminasi, merampok orang kulit hitam, bahkan melakukan pembunuhan secara biadab (Pradopo, 2001, h. 73).
Ketiga, nonsense adalah kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti sebab hanya berupa rangkaian bunyi dan tidak terdapat dalam kamus. Nonsense seperti itu banyak terdapat dalam puisi mantra atau puisi bergaya mantra, misalnya sajak-sajak  Sutardji Calzoum Bachri.
Penciptaan arti (creating of meaning) ini merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak mempunyai arti, tetapi menimbulkan makna dalam sajak. Jadi, penciptaan arti ini merupakan organisasi teks, di luar linguistik. Di antaranya adalah simetri, rima (persajakan), homologues, enjambemen, dan tipografi (Riffaterre, 1978, h. 2).
Pertama, simetri yaitu terdapatnya keseimbangan dalam sajak berupa persejajaran arti. Keseimbangan terdapat di antara bait-bait atau antara baris-baris dalam bait (Pradopo, 2002, h. 220).
Kedua, rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk musikalitas atau orkestrasi (Waluyo, 1987, h. 90). Menurut Wellek, rima dibedakan menjadi rima awal, rima tengah, dan rima akhir. Pembedaan juga dibagi menjadi rima terus (a a a a), rima berpasangan (a a b b), rima bersilang (a b a b), rima berpeluk (a b b a), dan rima putus (a a a b atau a b a c). Diperhatikan pula bahwa rima dalam larik terperinci menjadi aliterasi (runtun konsonan dalam larik seperti: desir hari lari berenang), asonansi (runtun paroh suku kata akhir dalam larik seperti: berjulang datang berkembang), desonansi (runtun ragangan konsonan kata dalam larik seperti: bolak-balik, compang-camping), dan anafora (runtun suku awal kata yang sama  dalam  larik  seperti: bernyanyi, beria, berlupa) (dalam Wiryatmaja, 1987, h. 38). Kombinasi bunyi-bunyi vokal (asonansi): a, e, i, u, o, bunyi-bunyi konsonan bersuara (voiced): b, d, g, j, bunyi liquida: r, l, dan bunyi sengau: m, n, ng, ny, menimbulkan bunyi merdu dan berirama disebut eufoni. Bunyi merdu ini dapat mendukung suasana  mesra, kasih sayang, gembira, dan bahagia. Sebaliknya kombinasi bunyi  tidak merdu, parau, penuh bunyi k, p, t, s, disebut kakofoni. Kakofoni ini sesuai untuk memperkuat suasana tidak menyenangkan, kacau balau, serba tak teratur, bahkan memuakkan. Vokal a, o, u lebih berat dari vokal lainnya yang mendukung suasana tidak menyenangkan (Pradopo, 2002, h. 29-30).
Ketiga, homologues ialah bentuk visual yang mendukung makna. Misalnya bentuk pantun yang berisi baris-baris yang sejajar.
Keempat, enjambemen adalah pemutusan kalimat untuk diletakkan pada baris berikutnya.
Kelima, tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa.

2.2. Pembacaan Semiotik

Konkretisasi makna sajak dapat diusahakan dengan pembacaan semiotik, yaitu pembacaan sajak secara heuristik dan hermeneutik atau retroaktif. Pada mulanya sajak dibaca secara heuristik, kemudian dibaca ulang (retroaktif) secara hermeneutik.
Pembacaan  heuristik adalah pembacaan berdasar struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Sajak dibaca secara linier menurut struktur normatif bahasa. Dalam pembacaan ini semua yang tidak biasa dibuat biasa atau harus dinaturalisasikan sesuai dengan sistem bahasa normatif. Bilamana perlu, susunan kalimat dibalik seperti susunan bahasa secara normatif, diberi tambahan kata sambung (diletakkan dalam tanda kurung), kata-kata dikembalikan ke dalam bentuk morfologisnya yang normatif, dan kalimat dalam sajak diberi sisipan-sisipan kata atau sinonimnya, diletakkan dalam tanda kurung supaya artinya menjadi jelas  (Pradopo, 2002, h. 269).
Pembacaan heuristik baru memperjelas arti kebahasaannya, tetapi makna sajak belum bisa ditangkap. Oleh karena itu, pembacaan heuristik harus dilanjutkan dengan pembacaan hermeneutik.
Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi sastranya.
Pembacaan heuristik ditentukan oleh kompetensi linguistik pembaca, sedangkan pembacaan hermeneutik ditentukan oleh konvensi sastra dan budaya yang melatarbelakangi kehadiran teks tersebut. Pembacaan secara heuristik dan hermeneutik akan sangat membantu dalam upaya pengungkapan pokok masalah atau temanya.

2.3 Tema dan Amanat

Seorang penyair selalu memiliki ide dasar dalam karyanya. Ide dasar dalam karya itu disebut tema. Tema merupakan sesuatu persoalan bagi pengarang dan  diungkapkan dalam karya sastra.
Tema mengacu pada penyair. Pembaca sedikit banyak harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema.  Oleh karena itu, sajak bersifat khusus (diacu oleh penyair), tetapi objektif (bagi semua penafsir, dan lugas (tidak dibuat-buat).
Langkah ke arah analisis tema sebuah sajak sebaiknya didahului dengan menyimak aspek pendukungnya. Aspek pendukung itu biasa disebut sebagai aspek formal pendukung aspek tematis. Dukungan itu terlihat pada nada sajak. Nada sajak adalah sifat penyair atau tokoh penutur terhadap subjek yang diangkat dalam karyanya, terhadap pembaca atau dirinya sendiri.
Sesuai dengan tema yang telah ditentukan, maka penyair pun berusaha menyampaikan pikiran maupun renungan ke dalam karyanya, baik itu berupa pesan, pendapat, atau ajaran moral. Pesan atau ajaran moral yang ingin disampaikan penyair itu berhubungan dengan amanat. Amanat tersirat di balik  kata-kata dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.
Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh pada perumusan  amanat sajak. Cara menyimpulkan amanat sajak sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal. Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi sajak.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Ketidaklangsungan Ekspresi Puisi
Ketidaklangsungan ekspresi puisi disebabkan oleh tiga hal, diantaranya adalah penggantian arti (displacing), penyimpangan arti (distorting), dan penciptaan arti (creating of meaning).

3.1.1 Penggantian Arti
            Pada umumnya kata-kata kiasan menggantikan arti sesuatu yang lain, seperti metafora dan metonimi. Dalam penggantian arti ini suatu kata (kiasan) berarti yang lain (tidak berdasarkan arti yang sesungguhnya). Seperti sajak yang dikaji dalam penelitian ini yaitu sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar ini.
PAHLAWAN TAK DIKENAL
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya: lubang peluru bundar adalah metafora dalam baris ini, berarti yang lain: memberikan suatu gambaran yang indah dan bersih. Padahal kenyataannya pastilah tidak seperti itu. Tentu ada darah yang belepotan.
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang: Senyum bekunya, berarti yang lain: sebuah keikhlasan yang diberikan walau diri sendiri sedang susah. Jadi, dalam keadaan perang, (dia) tidak tersenyum melainkan menyeringai kesakitan. Penyair menggunakan pilihan kata tersebut sebagai ungkapan jiwanya yang menghargai pengorbanan pahlawan.
            Dalam bait ketiga baris kedua “menangkap sepi padang senja” adalah pesonofikasi, dalam keadaan yang sedang genting itu tiba-tiba terasa sepi: “menangkap sepi pada padang senja”, padang merupakan sebuah tempat yang begitu luas, digambarkan sebuah padang disaat senja (akan datang waktu malam) akan berganti waktu. Dalam baris ke-3 dan ke-4 “Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu / Dia masih sangat muda”. Kata dunia tambah beku menggambarkan suasana yang semakin sangat terasa sepi walaupun sedang barada diantara derap dan suara merdu. Suara merdu berarti: sebuah suara yang menghiasi perasaan suka. Padahal kenyataanya pastilah tidak seperti itu. Mungkin saja banyak suara tembakan dan gemuruh orang-orang yang sedang berperang. Terlihat dari baris berikutnya “Dia masih sangat muda” disana penyasir sangat menghormati pahlawan yang mati dalam usia muda. Penyair menyayangkan dia(pahlawan) yang gugur di medan perang pada usianya yang sangat muda.
Dalam bait keempat, “Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun / orang-orang ingin kembali memandangnya” Seperti yang kita ketahui 10 November adalah metafora, arti yang sesungguhnya adalah hari Pahlawan, hari dimana kita memperingati jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur. “Orang-orang ingin memandangnya” orang-orang disana ialah kita sebagai anak bangsa bangsa mungkin akan kembali menggingat jasa mereka (para pahlawan) di hari pahlawan itu. Mereka “Sambil merangkai karangan bunga / tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya”, wajah-wajahnya sendiri berarti yang lain: sebagai bagian muka yang merupakan bagian dari diri sendiri. Jadi wajah-wajanya sendiri yang tak dikenalnya ialah suatu gambaran dimana saat kita memperingati hari pahlawan itu, kita akan menyadari mereka(pahlawan) merupakan anak-anak bangsa yang sama seperti kita. Walaupun kita tidak mengenal dia(pahlawan) namun kita tetap harus tahu, bahwa dia adalah bagian dari diri kita sendiri, yang sama-sama berjuang untuk membela bangsa. Semuanya itu merupakan “pahlawan tak dikenal”, yaitu pernyataan hati si penyair yang diucapkan dengan tulus ikhlas yang dipersembahkan untuk dia (pahlawan), karena si penyair dan dia (pahlawan) adalah anak bangsa yang sama-sama berjuang untuk tanah air, penyair sangat menghargai dan menghormati jasa para pahlawan walaupun dia adalah “pahlawan tak dikenal”.

3.1.2 Penyimpangan Arti                                                   
            Dikemukakan Riffatere( 1978:2) penyimpangan arti terjadi bia dalam sajak terdapat ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense.

Ambiguitas
            Dalam puisi kata-kata, frase dan kalimat sering mempunyai arti ganda, menimbulkan banyak tafsir atau ambigu. Seperti dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal” Toto Sudarto Bachtiar.
 Dalam bait ke-4 terlihat ambiguitas, Dia tidak ingat bilamana dia datang / Kedua lengannya memeluk senapang / Dia tidak tahu untuk siapa dia datang / Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang”. Dia sebenarnya tidak ingin datang, dia datang untuk berperang dengan membawa senapang, dia datang berperang dan tidak tahu apa tujuan yang sebenarnya, entah untuk siapa dia datang, dia terbaring di sana adalah mati, dia meninggal dalam buaian kasih sayang, hingga dia mati dengan cara yang halus dan perlahan.

Kontradiksi
Dalam sajak modern banyak mengandung ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud secara berlawanan atau berkebalikan. Ironi ini biasanya untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan. Ironi ini menarik perhatian dengan cara membuat pembaca berpikir. Sering membuat orang tersenyum atau membuat orang berbelas kasih terhadap sesuatu yang menyedihkan. Dalam puisi Indonesia, penyair Toto Sudarto Bachtiar juga menggunakan ironi dalam sajaknya “Pahlawan Tak Dikenal”.
            Dalam sajaknya Toto Sudarto Bachtiar menyinggung orang-orang yang tidak ikut berperang (termasuk kita pada saat ini) yang mengingat para pahlawan hanya saat hari peringatannya saja, yaitu tanggal 10 November, yang merupakan hari pahlawan. Padahal selain hari itu seharusnya kita selalu mengingat dan menghormati para pahlawan. Seharusnya kita mengenal para pahlawan itu. Kita sudah semestinya menghargai apa yang telah diberikan oleh para pahlawan. Mereka para pahlawan telah rela dan ikhlas mengorbankan nyawanya dan mati diusia muda untuk kita. Jangan sampai kita tidak mengenal mereka apalagi kita tidak menghargai pengorbanan mereka. Karena mereka(pahlawan) adalah kita. Karena kita semua adalah anak bangsa yang sama-sama berjuang untuk tanah air tercinta. Dapat kita lihat dalam bait keempat dan bait kelima.

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

3.1.3  Penciptaan Arti
Dalam puisi sering terdapat keseimbangan (simitri) berupa persejajaran arti antara bait-bait atau antara baris-baris dalam bait. Pada bait pertama dan bait terakhir sajak “Pahlawan Tak Dikenal” terdapat persejajaran yang menciptakan arti baru.
Bait pertama:
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Bait terakhir:
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
            Pada baris terakhir masing-masing bait diatas, menciptakan arti baru: “Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang” menjadi bermakna baru karena disejajarkan dengan “Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda”. Baris terakhir pada bait pertama tidak akan mempunyai makna “keikhlasan” bila tidak disejajarkan dengan baris terakhir pada bait terakhir. Karena pada baris terakhir bait terakhir ditegaskan oleh kalimat “... : aku sangat muda” yang dapat mewakili sebuah keikhlasan si aku yang rela berkorban (perang) menyerahkan nyawanya walau dalam usia yang muda dengan penuh keikhlasan yang dilambangkan dengan sebuah “senyum”.

3.2 Pembacaan Semiotik
Untuk konkretisasi makna puisi dapat diusahakan dengan pembacaan heuristik dan retroaktif atau hermeuneutik. Padamulanya sajak dibaca secara heuristik, kemudian dibaca ulang(retroaktif).

3.2.1 Pembacaan Heuristik
Dalam sajak ini, penyair seolah-olah sedang bercerita kepada pembaca. Bercerita tentang nasib si dia (sang pahlawan).
Sepuluh tahun yang lalu dia (pahlawan) terbaring, tergeletak jatuh ke tanah. Tetapi (dia) bukan sedang tertidur, sayang. Ternyata dia meninggal, karena tertembak oleh musuh. Sebuah lubang bekas peluru bundar menembus dadanya. Hingga darah berlumuran didada. Dia terluka, meringis kesakitan. Hanya senyum bekunya (yang menggambarkan keikhlasan) yang mampu berkata, bahwa kita sedang perang menyatakan keikhlasan dia (sang pahlawan) dalam membela tanah air sampai titik darah penghabisan.
Dia (sang pahlawan) tidak ingat bilamana dia datang ketika perang itu, hingga akhirnya dia meninggal dalam posisi kedua lengannya yang sedang memeluk senapang. Sebenarnya dia (sang pahlawan) tidak tahu untuk siapa dia datang untuk berperang. Merelakan jiwa raganya gugur dalam peperangan itu. Hingga kemudian dia(sang pahlawan) terbaring, tapi bukan tidur sayang. Melainkan,dia (sang pahlawan) telah gugur di medan perang.
Wajah sunyinya (sang pahlawan) setengah tengadah, karena sedang menahan rasa sakit. Hingga matanya (sang pahlawan) semakin lama semakin redup. Dunia semakin lama bertambah beku, karena telah gugur sang pahlawan di tengah derap dan suara-suara tembakan dalam gentingnya suasana perang. Lihatlah,dia (sang pahlawan) masih berusia sangat muda.
Hari itu tanggal 10 November yang merupakan hari peringatan untuk para pahlawan. Ketika peringatan hari pahlawan hujan air mata pun mulai. Orang-orang (termasuk kita para generasi penerus bangsa) ingin kembali memandangnya (sang pahlawan). Sambil merangkai karangan bunga untuk sang pahlawan. Tapi yang nampak disana yaitu, wajah-wajahnya (para anak bangsa) itu sendiri yang tak dikenalnya(generasi penerus bangsa). Yang padahal dia (sang pahlawan) dan orang-orang(generasi penerus bangsa) adalah sama. Sama-sama berjuang dalam membela tanah air tercinta.
Kembali mengenang peristiwa pada sepuluh tahun yang lalu, dia (sang pahlawan) terbaring, jatuh tubuhnya terhempaskan ke tanah. Tetapi bukan tidur, sayang. Dia (sang pahlawan) tidak sadarkan diri. Dia (sang pahlawan) ternyata telah gugur dalam peperangan. Musuh yang telah menembaknya, hingga sebuah peluru bundar menembus dadanya. Dadanya telah tertembak, darah melumuri tubuhnya. Hanya Senyum bekunya (yang mewakili keikhlasan hatinya) yang dapat berkata bahwa : aku (dia sang pahlawan) masih berusia sangat muda. Namun, dalam usianya yang cukup muda, dia ikhlas berkorban sampai titik darah penghabisan. Hingga nyawanya pun rela dikorbankan untuk tanah air tercinta ini.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai personifikasi dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal” ini, terdapat personifikasi: “Wajah sunyi setengah tengadah” (bait ketiga baris pertama) ini, mengiaskan sebuah perasaan pilu dan iba si penyair. Karena “wajah” yang merupakan bagian tubuh utama dan yang selalu terlihat paling menonjol yang merupakan pusat perhatian. Penyair menggambarkannya sebagai “wajah sepi” mungkin wajah pucat, yang sedang melawan maut.
Dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal” ini, mempergunakan sarana-sarana kepuitisan di antaranya bahasa kiasan seperti yang telah teruarai di atas dan dikombinasikan dengan corak kosa kata, dan citraan.
Penggunaan citraan yang berhubungan erat dengan bahasa kiasan, dalam sajak ini digunakan untuk membuat gambaran segar dan hidup, dipergunakan seluruhnya untuk memperjelas dan memperkaya, citraan berhasil menolong kita merasakan apa yang dirasakan penyair terhadap objek atau situasi yang dialaminya dengan tepat, hidup, dan ekonomis.
Citra pendengaran (auditory imagery): “Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang” (bait ke-1 baris ke-4). Ini membuat seolah olah kita dapat mendengar perkataan si dia untuk berkata “kita sedang perang”. Selain itu, pada bait ke-3 baris ke-3 “Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu”. Kita diajak seolah-olah mendengar sebuah suara yang merdu.
Citra penglihatan memberi rangsangan kepada ideraan penglihatan, hingga sering hal-hal yang tak terlihat jadi seolah-olah terlihat. Seperti:
Pada bait pertama baris ketiga, terdapat citra penglihatan “Sebuah lubang peluru bundar di dadanya” seolah-olah kita dapat melihat tubuh yang terluka karena peluru yang menembus dadanya (sang pahlawan).

3.2.2 Pembacaan Hermeneutik

Bait pertama
Dalam bait pertama itu menerang sebuah bayangan ingatan pada masa lalu, sebuah kenangan tentang dia, tepatnya sebuah kejadian yang dia alami pada sepuluh tahun yang lalu. “Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring” adalah deotomatisasi, untuk menarik perhatian dan membuat pembaca berpikir. Sebenarnya kejadian apa yang terjadi pada diri si dia pada sepuluh tahun yang lalu, hingga disebutkan dia terbaring pada sepuluh tahun yang lalu. “Tetapi bukan tidur, sayang” baris kedua ini mungkin mulai menambah rasa penasaran pembaca, karena di sebutkan bahwa dia buakan sedang tertidur. Terbaring disana biasa dikiaskan bahwa dia tidak sadarkan diri bisa saja dia pingsan atau mati. “Sebuah lubang peluru bundar di dadanya” pada baris ketiga mungkin sudah dapat terjawab pertanyaan yang muncul pada baris kedua. Ternyata “terbaring” yang dijelaskan pada baris pertama di sana mengiaskan bahwa dia telah mati. Namun penyair sangat menghargai si dia, sehingga penyair menggunakan pilihan kata “terbaring” dari pada terbunuh. Karena jika terbaring, si dia seakan tidak ada paksaan. Padahal pada kenyataan yang sebenarnya si dia “terbunuh” karena telah “tertembak”. “Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang” dalam baris ini, si dia seolah-olah ingin memberitahu bahwa kita pada saat itu sedang berperang. Dan “senyum bekunya” itu mengiaskan bahwa si dia rela dan ikhlas mengorbankan jiwa raganya, hingga tetes darah penghabisan.
Bait kedua     
Secara struktural bait kedua ini berhubungan dengan bait pertama. Bait kedua merupakan penjelasan tentang runtutan kejadian yang dialami si dia, mulai dari si dia datang untuk berperang hingga akhirnya dia tewas dalam perang itu.
Penyair seakan-akan memang berada ketika perang itu. Dia seakan melihat seluruh kejadian yang dialami oleh si dia. Penyair seolah-olah ada ketika kejadian itu. Dalam bait kedua baris pertama “Dia tidak ingat bilamana dia datang”, si dia lupa akan apa yang akan terjadi pada dirinya jika dia datang. “Kedua lengannya memeluk senapang” posisi tubuh si dia pada saat kejadian itu, dia sedang memeluk sebuah senapang. “Senapang” sebuah alat untuk membela dirinya, dan untuk mengalahkan musuh. Tetapi di sana si dia digambarkan sedang memeluk senapang, mungkin bisa saja itu adalah posisi ketika si dia telah tertembak oleh musuh. Karena merasa kesakitan sebab dadanya telah tertembak (seperti pada bait pertama baris ketiga). Kemudian, “Dia tidak tahu untuk siapa dia datang” mungkin ketika dia telah tertembak dan sedang merasakan sakit, terlintas dibenak si dia, sebenarnya untuk siapakah dia datang untuk berperang. Penyair seolah-olah menyindir pembaca. Agar pembaca sadar akan perjuangan para pahlawan. Bahwa pahlawan telah rela mengorbankan hidupnya itu, hanya untuk memperjuangkan tanah air, supaya anak cucu mereka dapat terus hidup dan meneruskan perjuangan mereka dimasa mendatang. “Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang” dengan nada mesra penyair menjelaskan bahwa dia telah gugur. Penggunaan kata “sayang” menimbulkan efek kedekatan antara pembaca dan penyair.
Bait ketiga
Ketika telah gugur sang pahlawan suasana berubah menjadi sepi dan hening. “Wajah sunyi setengah tengadah” menggambarkan sebuah kesedihan. Semua ekspresi jiwa akan terlihat dari raut wajah. Baik dalam keadaan senang, marah, sedih, semua perasaan yang ada di dalam hati akan terlihat dari raut wajah. Di sana penyair menggunakan pilihan “wajah sunyi” karena wajah sunyi dapat mewakili sebuah perasaan sedih, sepi dan juga rasa kehilangan sesuatu yang mendalam. “Menangkap sepi padang senja” semua suasana berubah menjadi suasana yang penuh duka. Karena “sepi padang senja” dapat menggambarkan telah usainya sesuatu. Mungkin “padang senja” di sana mengiaskan suasana perang yang telah usai karena telah gugur sang pahlawan. “Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu” suasana semakin memilukan, walaupun dalam gentingnya suasana perang, suasana telah berunbah menjadi sunyi karena kesedihan. Penyair sangat menyayangkan kejadian itu. “Dia masih sangat muda” ternyata yang telah gugur itu adalah si dia yang berumur masih berumur sangat muda. Tetapi bisa juga ditafsirkan, walaupun raganya sudah sangat rapuh, namun dia semangatnya masih sangat muda, semagatnya masih penuh, berkobar.
Bait keempat
Pada bait keempat ini, penyair menyebutkan sebuah tanggal yang merupakan hari peringatan sang pahlwan, atau kita kenal pada saat ini dengan hari pahlawan. “Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun” tanggal 10 November merupakan hari pahlwan. Namun pada hari itu, hujan turun, mungkin “hujan” di sana mengiaskan jiwa-jiwa yang menangis. Hujan itu membuat suasana menjadi semakin haru. Semua itu menggambarkan perasaan kesedihan. Orang-orang yang ingin kembali memandangnya mungkin oarang-orang itu adalah mereka yang pada saat itu selamat dalam peperangan atau bisa juga orang-orang itu adalah kita para generasi penerus bangsa, yang pada saat ini hanya bisa merangkaikan karangan bunga saat hari pahlawan saja. Mungkin penyair menyindir kepada orang-orang yang hanya ingat pada sang pahlawan itu, hanya ketika hari pahlawan saja. Orang-orang itu tidak sadar, walaupun mereka tidak mengenali si dia, seharusnya orang-orang itu harus tetap mengingatnya. Karena si dia dan orang-orang itu adalah sama. Sama-sama anak bangsa yang berjuang untuk tanah air ini. Walaupun tidak mengenalinya, tetapi orang-orang itu harus sadar, bahwa orang-orang itu adalah anak cucu si dia (sang pahlawan) yang telah gugur mendahului orang-orang itu. Orang-orang itu adalah generasi penerus bangsa, yang terdiri dari penyair, pembaca dan semua orang yang merupakan anak bangsa.
Bait kelima
Pada bait kelima baris pertama merupakan pengulangan dari baris pertama bait pertama, “Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring” namun maksud dari pengulangan kalimat ini yaitu untuk memberi efek penegasan serta untuk mengingatkan pembaca kembali akan kejadian pada sepeuluh tahun yang lalu. Kemudian, “Tetapi bukan tidur, sayang” pada baris kedua ini juga sama seperti bait pertama baris kedua. “Sebuah peluru bundar di dadanya” begitu juga dengan baris ketiga bait kelima ini merupakan pengulangan dari kalimat yang berada pada bait pertama baris ketiga. Namun kalimat yang berbeda pada bait kelima ini, ada pada kalimat baris keempat ini. Pada baris keempat pada akhir kalimat dibuat berbeda oleh penyair. Seperti berikut:

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang (bait pertama, baris keempat)
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
(bait kelima, baris keempat)
Pada bait pertama baris keempat itu, menjelaskan sebuah simbol “keikhlasan” pahlawan yang rela mengorbankan jiwa raganya hingga tetes darah penghabisan untuk berperang memperjuangkan tanah air. “Keikhlasan” dikiasakan oleh kalimat “senyum bekunya mau berkata, ...”, “senyum” merupakan sebuah rasa ikhlas dan tulus. Makna kalimat pada bait kelima baris keempat juga mengandung makna yang sama seperti pada bait pertama baris keempat “senyum bekunya mau berkata: ...”, namun yang membedakan hanya pada akhir kalimat “senyum bekunya mau berkata: aku masih sangat muda”. “...: aku masih sangat muda” menjelaskan bahwa usia si aku masih berusia muda, namun di usianya yang masih muda si aku ikhlas untuk berjuang. Namun, bisa juga tafsirkan, walaupun si tubuh si aku lemah dan sudah tidak berdaya lagi, namun si aku masih memiliki semangat yang “masih sangat muda” sebuah semangat yang masih berkobar, semangat yang masih baru untuk terus berjuang membela tanah air dengan rasa yang penuh rasa ikhlas dan tulus.

3.3 Tema dan Amanat
         Dalam sebuah karya sastra pasti memiliki sebuah tema. Tema dalam sebuah karya sastra sering berhubungan dengan amanat yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Setelah menganalisis puisi tahap demi tahap, kita dapat menyimpulkan tema puisi, amanat atau pesan, sikap penyair (feeling) dan nada puisi (tone). Tema adalah ide,gagasan pokok masalah yang disampaikan penyair melalui puisinya. Amanat atau pesan adalah nilai-nilai yang terkandung dalam puisi yang dapat dipetik oleh pembaca. Sikap penyair adalah perasaan atau sikap penyair terhadap tema yang ‘digarapnya’ dalam puisi. Nada adalah cara penyair mengemukakan sikapnya.
Dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar  memiliki tema patriotisme. Begitu jelas bahwa sajak tersebut menceritakan tentang semangat seorang pahlawan untuk berperang. Jiwanya begitu bergelora menyemangati kepada kita untuk berperang. Badannya begitulemah tapi semangatnya masih tetap muda.            
Toto Sudarto Bachtiar sangat kagum kepada para pahlawan yang gugur dalam pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945. Mereka kebanyakan tidak dikenal dan dalam usia yang sangat muda. Karena kagumnya kepada para pahlawan pejuang kemerdekaan itu, maka mereka disebut dengan kata “sayang”.
Puisi tersebut memberikan berbagai amanat atau pesan, antara lain:
·                    Pahlawan sejati adalah pahlawan tak meningalkan jasa tanpa menonjolkan diri.
·                     Perang kemerdekaan 10 November melahirkan pahlawan-pahlawan tak dikenal dalam usia muda yang pantas kita teladani.
·                    pahlawan muda itu rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, karena itu kita harus mengisi kemerdekaan ini.
·                    Hargailah para pahlawan tak dikenal yang mati muda dengan menyerukan perjuangannya.
Dengan puisi yang bertema patriotisme, penyair membawa pembaca untuk meneladani orang-orang yang telah berkorban demi bangsa dan tanah air

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
            Dengan menggunakan analisis wacana puitik yang merupakan analisis ketidaklangsungan ekspresi puisi yang dikaji dengan menganalisis penggantian arti, penciptaan arti dan penyimpangan arti yang terdiri dari ambiguitas dan kontradiksi, dapat mempermudah dalam mengetahui tema dan amanat dalam puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar.
            Disamping meggunakan analisis ketidaklangsungan ekspresi puisi untuk mengetahui tema dan amanat yang terkandung dalam sajak “Pahlawan Tak Dikenal” juga dapat menggunakan analisis pembacaan semiotik, yang di dalamnya terdapat pembacaan heuristik yang dilanjutkan dengan pembacaan hermeunistik untuk dapat lebih memaknai isi sajak.
            Dengan analisis-analisis tersebut akhirnya didapatkan tema dan amanat dari sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar. Tema yang diangkat dalam sajak ini adalah patriotisme.
            Penyair memberikan amanat dalam puisi itu, agar kita sebagai generasi penerus bangsa agar menghargai perjuangan para pahlawan yang mati muda. Walaupun Kita tidak mengenal secara langsung, namun sudahlah seharusnya kita mengenal jasa-jasa sang pahlawan. Karena pahlawan telah rela dan ikhlas mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, karena itu kita harus mengisi kemerdekaan ini. Pahlwan tak dikenal adalah pahlawan sejati karena meninggalkan jasa tanpa menonjolkan diri. Oleh karena itu, pahlawan yang gugur pada peristiwa perang kemerdekaan 10 November itu adalah pahlawan sejati, yang pantas untuk kita teladani.

4.2 Saran
Puisi-puisi bertema patriotisme dan kepahlawanan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme pada jiwa pembacanya. Oleh karena itu, dengan cara mengkaji karya sastra seperti ini, dapat membantu menumbuhkan rasa patriotisme. Sajak Toto Sudarto Bachtiar dengan tema pahlawan itu membuka kemungkinan keterlibatan empati dan simpati pembaca untuk masuk dalam narasi sejarah dan pengalaman tokoh. Konstruksi puisi pun sanggup mengantarkan pembaca pada pengetahuan pahlawan dalam kolaborasi fakta-fiksi.
Jadi, untuk dapat mengetahui jejak-jejak para pahlawan dan meningkatkan rasa patriotisme, dapat dengan cara mengkaji dan menganalisis sajak-sajak yang bertemakan pahlawan. Karena dengan cara demikian, kita tidak hanya cukup meembaca sajak-sajak tersebut saja. Melainkan kita juga berusaha untuk mengetahui makna yang terkandung dalam sajak. Dengan demikian kita akan lebih mengerti dan memaknai amanat yang akan disampaikan penyair.

DAFTAR PUSTAKA
Waluyo, Herman.J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Pradopo, Rahmat Djoko. 1997. Teori Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press


1 komentar:

  1. INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 303X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT




    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 303X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT

    BalasHapus